Kilas Balik Perjalanan Persipura dan Persib Musim Ini | Bola Dunia

Kilas Balik Perjalanan Persipura dan Persib Musim Ini

Berita Bola DuniaBerita bola terkini Kilas Balik Perjalanan Persipura dan Persib Musim Ini, bola dunia adalah sajian kusus mengulas tentang semua hal seputar sepak bola. di bola dunia bisa di peroleh informasi prediksi Hari Ini, Jadwal terkini sepak bola, jadwal siaran langsung, dan yang lainnya seputar Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, Liga Champions, Liga Eroupa dan tak ketinggalan Liga ISL. Terimakasih telah bergabung dengan boladunia.org, dan simak update terbaru hari ini.

Seperti membuka album yang telah berdebu. Barangkali itulah yang dirasakan bobotoh Persib hari ini. Sudah teramat lama mereka tak menginvasi stadion tempat diselenggarakannya partai final. Mereka mencoba mengingat-ingat bagaimana dulu tangis bahagia meluncur begitu saja, saat Persib membawa pulang piala.

Lazimnya pertemuan dua tim yang masuk final, Persipura adalah tim istimewa. Berasal dari ujung timur Indonesia, mereka adalah tim yang penuh oleh pemain bertalenta. Mutiara Hitam, begitu kata orang. Namun, tak ada mutiara yang hitam, yang ada adalah mutiara yang terpendam untuk bersinar.

Pertandingan nanti malam adalah ujian bagi kedua tim. Dahaga 19 tahun tanpa gelar juara liga, bisa berbalik menjadi tekanan. Apalagi, lawan yang dihadapi adalah Persipura. Final Liga Indonesia adalah langganan bagi mereka.

Catatan Persipura di fase grup penyisihan wilayah timur terbilang baik. Mereka adalah satu-satunya klub yang hanya menelan satu kali kekalahan dari 20 pertandingan yang dilewati. Pada tabel klasemen akhir, Persipura menempati peringkat dua klasemen dengan 39 poin, di bawah Persebaya Surabaya.

Sementara itu Persib Bandung pada musim ini pantas disebut “Maung” ketimbang “Meong”. ‘Maung Bandung’ tampil solid baik itu saat bermain kandang maupun tandang. Total, mereka mencatatkan 12 kemenangan dan hanya tiga kali kalah dari 20 pertandingan. Persib pun mengumpulkan poin 41 dan menempatkannya di bawah Arema Cronus.

Penurunan Performa dan Faktor Tandang

Satu-satunya kekalahan yang diderita Persipura dialami saat bertandang ke Stadion Surajaya, Lamongan. Di pekan ke-19 tersebut, mereka menyerah dua gol tanpa balas dari Persela Lamongan. Catatan ini sekaligus memperlihatkan ketidakstabilan performa Persipura kala bermain tandang.

Dari sepuluh pertandingan yang dilakoni, Persipura hanya menang tiga kali, dan seri enam kali. Kemenangan tersebut diraih atas Persiba Balikpapan, dan dua tim yang terdegradasi musim ini: Persepam Madura United sertaPersiba Bantul.

Selain itu, musim ini penampilan Persipura di liga terasa tak begitu trengginas. Mereka hanya mampu mencetak 29 gol. Bandingkan dengan Persib misalnya, yang mampu mencetak 42 gol hingga babak penyisihan.

Hal ini berlanjut di babak delapan besar. Dari enam pertandingan, Persipura hanya mencetak sembilan gol, dan kebobolan enam gol. Mereka menyapu bersih kemenangan di kandang, tapi kalah dua kali di partai tandang

 

Dukungan penuh masyarakat Jayapura, khususnya, menjadi penting bagi Boaz Salossa dan rekan-rekan. Saat tampil di Piala AFC 2014, Persipura hanya kalah sekali dan menang dua kali di Stadion Mandala. Di babak 16 besar, mereka lebih gila lagi. Wakil Myanmar, Yangoon United, dibantai 9-2 di hadapan pendukung Mutiara Hitam.

Persipura pun balik unggul kala menjamu Al Kuwait dengan skor yang (lagi-lagi) fantastis 6-1. Padahal, saat bertandang ke Stadion Kaifan, kandang Al Kuwait, Persipura kalah 2-3.

Penurunan perfroma tim yang saat itu masih dilatih Jackson F. Thiago tersebut terlihat saat dikalahkan Al Qadsia pada 17 September.Sempat unggul terlebih dahulu, Persipura menyerah 2-4. Bermain di hadapan suporter sendiri pada 30 September, Persipura malah dibantai 6-0 atas wakil Kuwait tersebut.


(detikSport/Wilpret Siagian)

Di babak delapan besar, Persipura mengawali pertandingan dengan mengalahkan Persela di Stadion Surajaya lewat gol yang masing-masing dicetak Titus Bonai, dan Ricky Kayame.

Empat hari berselang atau pada delapan Oktober, Persipura dikalahkan Semen Padang di Stadion Haji Agus Salim dengan skor 1-0. Kekalahan tersebut berlanjut empat hari kemudian di Stadion Kanjuruhan, Malang. Arema Cronus menggulung Persipura tiga gol tanpa balas.

Di pertandingan keempat, Persipura wajib mendulang poin penuh. Bermain di kandang sendiri, mereka perlu menunggu hingga waktu tambahan untuk unggul atas Arema.

Sisa dua pertandingan terakhir pun disapu bersih oleh Persipura.

Pada partai semifinal Liga Indonesia, Boaz Salossa dan kolega seolah kesulitan membongkar permainan tim Pelita Bandung Raya (PBR). Pelatih PBR, Dejan Antonic, berusaha memperlambat tempo agar para pemain Persipura tak dapat menunjukkan kualitasnya.

Melihat hal ini, terlihat bagaimana adanya kebuntuan saat Persipura membangun serangan. Kebuntuan ini sebenarnya hal yang langka karena Persipura memiliki pemain yang multi-talenta. Ada yang unggul dalam kecepatan, dribbling dan visi bermain yang luas.

 

Ada pula yang merupakan kombinasi ketiganya. Ditunjang dengan kekuatan fisik dan stamina di atas rata-rata, bisa dibilang penurunan performa ini sungguh mengherankan.

Setiap tahunnya, Persipura memiliki pengatur serangan yang mampu menentukan jalannya pertandingan. Mulai dari Zah Rahan hingga kini Robertino Pugliara.

Musim ini produktivitas memasukan dan kemasukan Persipura menurun drastis ketimbang musim lalu. Musim ini dari 27 pertandingan (hingga semifinal) Persipura mencetak 40 gol atau 1,48 gol per pertandingan, dan kemasukan 21 gol atau 0,77 gol per pertandingan. Bandingkan dengan musim lalu misalnya. Persipura mencetak 82 gol dari 34 pertandingan atau 2,41 gol per pertandingan dan hanya kebobolan 18 gol atau 0,52 per pertandingan.

Sederhananya seperti ini, sebuah tim akan jarang kebobolan saat tim tersebut lebih sering mendapatkan penguasaan bola. Saat semua lini Persipura tak lagi dominan, lini serang menjadi tumpul dan lini pertahanan menjadi goyah. Pugliara pada musim ini menampilkan penampilan yang baik, terutama saat mengorganisasikan penyerangan. Namun, serangan tersebut tak cukup tajam (di liga) dan tak cukup kuat untuk membendung serangan lawan.

Tren Positif Maung Bandung

Musim ini, Persib Bandung seolah mendapat “restu”. Sebelum liga bergulir, mereka sudah menempatkan satu tempat di partai final Inter Island Cup. Sejumlah pertandingan persahabatan menghadapi tim luar negeri pun berakhir memuaskan.

Menang atas Raj Pracha 4-0 di akhir Januari, Persib mengulang hasil memuaskan dengan menahan imbang juara Liga Belanda, Ajax Amsterdam, 1-1 di Stadion Si Jalak Harupat. Jelang babak delapan besar, Persib kembali menang 4-0 atas Malaysia Selection di stadion Gelora Bandung Lautan Api.

Perjalanan Persib di Liga Indonesia musim ini merupakan yang terbaik ketimbang lima musim sebelumnya. Di babak penyisihan grup, Persib hanya kalah tiga kali. Dua kali di partai tandang, dan sekali di kandang. Uniknya, dua kekalahan tersebut diderita di Si Jalak Harupat.

Di babak delapan besar, lagi-lagi Persib kalah oleh PBR di Si Jalak Harupat. Hal ini menunjukkan sedikitnya pengaruh saat Persib bermain kandang dan tandang. Malah, tiga kekalahan diderita di Bandung, dan satu kekalahan di Padang.


(dok. detikFoto)

 

Kemampuan anak asuh Djadjang Nurdjaman dalam mengelola mental patut diapresiasi. Pasalnya, mereka tak gugup saat bertandang di “kampung orang”.

Persib patut mewaspadai lini pertahanan mereka. Di babak penyisihan mereka kebobolan 20 kali. Jumlah ini lebih banyak ketimbang Persija Jakarta yang tak lolos delapan besar. Di babak delapan besar Persib kebobolan tujuh kali. Angka ini lebih besar dari PBR yang hanya kebobolan empat kali.

Dari 27 pertandingan Persib telah mencetak 56 gol dengan distribusi 21 gol dari penyerang, 23 gol dari gelandang, dan sembilan gol dari lini pertahanan.

Setelah terjadi penurunan performa pada Djibril Coulibaly, Ferdinand Sinaga yang menjadi lumbung gol Persib. Selain itu, tusukan dari lini tengah pun tak dapat diabaikan. Hingga saat ini, Makan Konate adalah pencetak gol terbanyak Persib dengan sumbangan 13 golnya.

Tren positif Persib terlihat di penghujung babak penyisihan. Setelah dikalahkan 1-3 oleh Semen Padang di Stadion Haji Agus Salim, laju Persib seolah tak tertahankan. Mereka menang empat pertandingan berturut-turut atas Persijap 5-0, Persik Kediri 3-0 Persita Tangera 2-1, dan Sriwijaya FC 3-2.

Di babak delapan besar, Persib pun menunjukkan memiliki mental kuat saat bertanding di kandang lawan. Maung Bandung menang 3-2 atas Mitra Kukar di Tenggarong, dan menahan imbang Persebaya di Stadion Gelora Bung Tomo.

Mental bertanding itu pulalah yang dibawa Persib saat berhadapan dengan Arema di Stadion Jakabaring, Palembang. Bertanding 750 kilometer jauhnya dari Kota Kembang, Persib bermain tak kenal lelah. Setelah kebobolan 0-1 lewat gol Alberto Goncalves, Persib meningkatkan serangan hingg akhirnya gol Vladimir Vujovic di sepuluh menit akhir pertandingan terjadi. Persib bahkan bisa mencetak dua gol lagi lewat Atep dan Makan Konate.

Musim ini, tercatat Persib empat kali balik menang setelah kebobolan terlebih dahulu. Namun, semua terjadi saat bermain di tandang, kecuali kala berhadapan dengan Arema di tempat netral.

Mental seperti inilah yang mesti dipelihara skuat asuhan Djadjang Nurdjaman untuk melepas dahaga warga Bandung yang menanti gelar juara.

Persipura Unggul Rekor Pertemuan

 

Pertemuan antara Persib Bandung dan Persipura Jayapura di musim ini terjadi di partai final. Melihat dari 12 kali pertemuan, Persib hanya menang satu kali dan empat kali seri. Sisanya, Persipura yang mendominasi kemenangan.

Langkah Persib menjadi jauh lebih sulit kala bermain di Stadion Mandala, Jayapura. Dengan dukungan penonton tuan rumah, Persib tak sekalipun mencatatkan kemenangan.

Namun, skuat kedua tim kini banyak berubah. Secara permainan, Persib menunjukkan peningkatan dan lebih stabil terutama saat bermain di kandang lawan. Di Palembang, Persib akan didampingi ribuan bobotoh yang datang ke stadion. Secara jumlah pendukung, jumlah suporter Persib akan jauh lebih banyak, dan menjadikan partai ini seolah partai kandang.

Urusan juara, Persipura adalah tim yang gemar berada di puncak. Di era Liga Indonesia, Persipura pertama kali menjadi juara pada 25 September 2005 di Stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Boaz Solossa dan kawan-kawan mengalahkan Persija Jakarta 3-2 lewat babak tambahan.

Setelah perubahan format menjadi “Indonesian Super League” dengan satu wilayah pada musim 2008/2009, Persipura lima musim berturut-turut selalu masuk dua besar. Mereka berada di peringkat dua pada musim 2009/2010 dan 2011/2012.

Musim 2008/2009, 2010/2011, dan 2013? Mereka juara! Prestasi ini agaknya bisa diperpanjang setelah lagi-lagi mereka memastikan berada di dua besar pada musim ini.

Siapa yang akan menang? Persipura yang langganan juara? Atau Persib yang 19 tahun menahan dahaga?

*dirangkum dan dianalisis oleh @panditfootball.(din/roz) Sumber: detiksport

Similar Posts
Nonton Liga Inggris, Spanyol, Champions Eropa, Serie A dan Uefa Super Cup
Nonton Liga Inggris, Spanyol, Champions Eropa, Serie A dan Uefa Super Cup
Nonton Liga Inggris, Spanyol, Champions Eropa, Serie A dan Uefa Super Cup, Hobi nonton sepak bola via satelit parabola? ALTERNATIFnya...
Masa Depan Adnan Januzaj Kini Dipertanyakan
Masa Depan Adnan Januzaj Kini Dipertanyakan, Masa depan Adnan Januzaj di Old Traffod saat ini mulai dipertanyakan setelah ia dihapus...
Skor Pertandingan Hari Ini, Siapa Jadi No 1
Skor Pertandingan Hari Ini, Siapa Jadi No 1 – Pertandingan Hari Ini ADALAH LAGA FINAL PIALA EROPA adalah Prediksi Portugal...

There are no comments yet, add one below.

Leave a Reply


Name (required)

Email (required)

Website